Menilai Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Lewat Citra Satelit

Menilai Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Gunung Halimun Salak Lewat Citra Satelit

Hutan tropis punya peran penting bagi kehidupan—mulai dari menyerap karbon, menjaga keanekaragaman hayati, hingga mengatur iklim. Tapi, kerusakan hutan yang terus terjadi menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan hilangnya habitat alami. Jika dibiarkan, sebagian hutan tropis asli bisa lenyap pada tahun 2050.

Melihat tantangan itu, salah satu mahasiswi program magister (S2) dari Divisi Analisis Lingkungan dan Geospasial Modeling, Theresa Vindri Pramesti, di bawah bimbingan Dr. Siti Badriyah Rushayati, dan Prof. Lilik Budi Prasetyo melakukan sebuah studi menarik tentang bagaimana ekosistem hutan yang direstorasi bisa pulih kembali seiring waktu. Penelitian mereka baru saja dipublikasikan di jurnal Ecological Engineering & Environmental Technology (EEET), Volume 26, Issue 8, pada 1 Agustus 2025.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemulihan fungsi ekosistem setelah 14 tahun pelaksanaan restorasi di koridor habitat Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan beberapa indikator berbasis penginderaan jauh, dengan fokus pada tiga fungsi utama: perbaikan iklim mikro, analisis lanskap, dan produktivitas primer bersih.

Program restorasi hutan sudah banyak dilakukan di berbagai daerah, tetapi hasilnya belum selalu sesuai harapan. Banyak program yang hanya berfokus pada menanam pohon, tanpa benar-benar memperhatikan bagaimana fungsi ekosistem — seperti iklim mikro, penyerapan karbon, dan struktur lanskap — ikut pulih.

Di sinilah penelitian dari Theresa dan tim menjadi penting. Mereka berupaya menilai secara lebih menyeluruh: apakah fungsi ekosistem benar-benar membaik setelah 14 tahun proses restorasi? Lokasi yang mereka pilih adalah koridor habitat TNGHS, salah satu kawasan hutan pegunungan terbesar di Jawa Barat yang menjadi rumah bagi berbagai satwa endemik.

Pendekatan: Melihat dari Langit

Alih-alih hanya mengandalkan pengamatan lapangan, tim ini menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) untuk memantau perubahan di area restorasi selama lebih dari satu dekade.

Data yang digunakan adalah citra satelit Landsat dari periode 2011 sampai 2024 untuk mengukur beberapa parameter, yaitu: suhu permukaan tanah (Land Surface Temperature/LST), kerapatan tajuk (Forest Canopy Density/FCD), produktivitas primer bersih (Net Primary Productivity/NPP), dan analisis struktur lanskap berdasarkan metrik fragmentasi seperti Number of Patches (NP), Edge Density (ED), Mean Shape Index (MSI), dan Interspersion And Juxtaposition Index (IJI). Klasifikasi penggunaan lahan dilakukan menggunakan algoritma Random Forest di Google Earth Engine, kemudian dilakukan pemantauan perubahan tutupan lahan dan fragmentasi lanskap di area restorasi dan sekitarnya.

Apa yang Ditemukan?

Hasil penelitian menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan, meski belum sepenuhnya optimal. Tim menemukan adanya tren penurunan suhu permukaan tanah di area restorasi, meskipun nilai LST masih sedikit lebih tinggi dibandingkan hutan asli, yang menandakan kondisi ameliorasi iklim belum sepenuhnya pulih. Kerapatan tajuk (FCD) secara signifikan meningkat sejak awal program restorasi, tetapi belum mencapai tingkat seperti hutan alami. Produktivitas primer bersih (NPP) di area restorasi masih lebih rendah daripada hutan alami, yang berarti penyerapan karbon juga belum optimal. Metrik lanskap mengindikasikan stagnasi jumlah patch hutan di area restorasi, dengan kepadatan tepi dan kompleksitas bentuk patch yang lebih tinggi daripada hutan asli, serta distribusi patch yang kurang merata berdasarkan nilai IJI yang rendah.

Dengan kata lain, restorasi sudah di jalur yang benar, tetapi belum sepenuhnya sampai pada kondisi ekosistem alami.

Peta Perubahan Tutupan Lahan di Koridor TNGHS (2011–2024)

Keterangan: Warna hijau menunjukkan area berhutan, warna coklat area terbuka, dan area berwarna kuning menunjukkan peningkatan tutupan vegetasi hasil restorasi.

Refleksi dari Para Peneliti

Dalam artikel yang diterbitkan di EEET ini, Theresa dkk menegaskan bahwa pemulihan hutan adalah proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi, strategi adaptif, dan evaluasi berkelanjutan.

Restorasi hutan di koridor TNGHS telah menunjukkan kemajuan dalam memulihkan fungsi ekosistem tertentu seperti mikroklimat dan kepadatan kanopi, namun belum mampu sepenuhnya mengembalikan seluruh fungsi ekosistem, terutama terkait produktivitas karbon dan pengurangan fragmentasi lanskap. Proses pemulihan ekosistem ini masih memerlukan waktu lebih panjang dan strategi yang lebih efektif untuk mencapai kondisi yang sebanding dengan hutan asli.

Mengapa Ini Relevan bagi Kita?

Penggunaan data penginderaan jauh yang digabungkan dengan indikator ekologi lanskap memberikan metode pemantauan restorasi yang praktis dan efisien, khususnya untuk area yang luas dan sulit diakses. Informasi ini sangat penting sebagai dasar perencanaan pengelolaan konservasi yang berkelanjutan dan adaptif di masa depan. Pendekatan ini bukan hanya efisien, tetapi juga memungkinkan pengawasan area yang luas dan sulit dijangkau.

Temuan dari TNGHS ini bisa menjadi model untuk program restorasi di kawasan lain di Indonesia — membuktikan bahwa data satelit bukan sekadar gambar dari langit, tetapi juga cerminan nyata dari upaya kita memulihkan bumi.


Referensi: Pramesti, T. V., Rushayati, S. B., & Prasety, L. B. (2025). Evaluating ecosystem recovery on degraded lands restoration using satellite-based spatial indicators in Mount Halimun Salak National Park, Indonesia. Ecological Engineering & Environmental Technology (EEET)26(8).

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments