
Di Balik Janji ‘Forest City’: Apakah Pembangunan IKN Mengorbankan Iklim Lokal?
Pencitraan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang membawa janji besar sebagai “kota hutan” (forest city), di mana 70% wilayahnya akan tetap berupa kawasan berhutan. Konsep ini adalah solusi ambisius untuk mengatasi masalah iklim yang membelenggu kota-kota besar. Namun, apakah pembangunan mega-proyek nasional ini berjalan sejalan dengan komitmen ekologis tersebut?
Sebuah studi baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari IPB University—termasuk Dr. Siti Badriyah Rushayati, Prof. Lilik Budi Prasetyo, Theresa Vindri Pramesti, Frandy Halim Wijaya, dan Arif Kurnia Wijayanto—memberikan jawaban yang lugas. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Ecological Engineering & Environmental Technology ini menyoroti tantangan yang muncul terhadap stabilitas iklim lokal, bahkan di tahap awal pembangunan IKN.
Tujuan dan Pendekatan: Mengintip Dinamika Termal dari Langit
Penelitian ini bertujuan menganalisis secara terpadu pola perubahan penutupan lahan dan dinamika termal yang diakibatkannya di wilayah IKN. Tim ini fokus pada periode krusial: 2018 (sebelum pembangunan intensif) hingga 2022 (selama pembangunan berlangsung).

Alih-alih hanya mengandalkan observasi darat, para peneliti menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing). Pendekatan ini melibatkan penggunaan citra satelit Landsat 8/OLI dan data investigasi ekosistem global GEDI (Global Ecosystem Dynamics Investigation).
Teknologi ini memungkinkan mereka mengukur tiga parameter vital:
- Perubahan Penutupan Lahan: Mengidentifikasi konversi kawasan bervegetasi menjadi lahan terbangun.
- Perubahan Biomassa: Menilai kepadatan biomassa (penyimpan karbon) di atas permukaan tanah.
- Kenaikan Suhu Permukaan Tanah (LST) dan intensitas Pulau Bahang Perkotaan (UHI – Urban Heat Island).
Apa yang Ditemukan? Biomassa Anjlok, Suhu Merangkak Naik
Temuan dalam studi ini berfungsi sebagai peringatan dini. Data satelit menunjukkan korelasi langsung: pergeseran penutupan lahan berkontribusi pada kenaikan LST.
Perubahan Penutupan Lahan dan Biomassa
Pembangunan IKN yang masif telah menyebabkan peningkatan luas area terbangun dan lahan terbuka (akibat land clearing untuk infrastruktur). Secara spesifik:
- Luas area bervegetasi menurun dari 226.548,8 hektar pada tahun 2018 menjadi 222.457,7 hektar pada tahun 2022.
- Sejalan dengan itu, biomassa rata-rata (kapasitas penyerapan karbon) di area tersebut anjlok dari 74,25 Mg/ha pada tahun 2019 menjadi 66,21 Mg/ha pada tahun 2022. Penurunan tajam ini dikaitkan dengan pembangunan ekstensif di area inti pusat pemerintahan IKN.


Kenaikan Suhu dan Terbentuknya Pulau Bahang Perkotaan
Kenaikan suhu permukaan tanah (LST) terjadi di semua jenis penutupan lahan. Pembangunan fisik secara langsung berkontribusi pada kenaikan suhu lokal ini.
- Rata-rata LST naik secara signifikan dari kisaran 27,63∘C−29,50∘C pada tahun 2018, melonjak hingga 30,95∘C−34,08∘C pada tahun 2022.
- Indeks Intensitas UHI (Pulau Bahang Perkotaan) meningkat dari 0,05 (pulau bahang sangat lemah) pada tahun 2018 menjadi 0,08 (pulau bahang lemah) pada tahun 2022. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa meskipun pembangunan masih di tahap awal, efek termal perkotaan sudah mulai menguat secara signifikan.
Refleksi: Tantangan Nyata Menuju ‘Kota Hutan’ Berkelanjutan
Meskipun IKN mengadopsi konsep kota hutan, peningkatan LST yang signifikan tetap sangat mungkin terjadi jika konversi lahan tidak dikendalikan secara holistik. Pembangunan di fase awal ini sudah berdampak pada biomassa dan memicu kenaikan LST/UHI.
Visi ‘kota hutan’ IKN terancam jika masalah ini tidak diatasi dalam manajemen perkotaan. Para peneliti menekankan:
- Strategi Spasial Wajib: Sekadar menetapkan target 70% kawasan hutan tidaklah cukup. Perluasan area bervegetasi harus dilakukan dengan manajemen strategis untuk memitigasi panas perkotaan dan meningkatkan ketahanan iklim.
- Integrasi RTH Inti: Perencana kota harus fokus pada penempatan strategis, konektivitas, dan fungsionalitas area hijau di dalam inti perkotaan, bukan hanya menempatkannya di pinggiran.
- Pemantauan Berkelanjutan: Pemantauan dan evaluasi secara berkala sangat penting untuk menjunjung tinggi visi pembangunan berkelanjutan IKN dan menjaga keseimbangan ekologis serta iklim mikro kota.
Temuan ini menunjukkan bahwa data satelit bukan hanya sekadar gambaran dari langit, tetapi juga cerminan nyata yang mendesak para pemangku kebijakan untuk memastikan IKN benar-benar mewujudkan janjinya sebagai kota hutan yang berkelanjutan.
Referensi:
Rushayati, Siti B., Lilik B. Prasetyo, Theresa V. Pramesti, Frandy H. Wijaya, and Arif K. Wijayanto. “Spatio-temporal analysis of land surface temperature and biomass changes in Nusantara Capital City: Challenges for forest city planning”. Ecological Engineering & Environmental Technology 26 no. 10 (2025): 74–85. doi:10.12912/27197050/210101.