Hutan Kota: Strategi Jitu Melawan ‘Pulau Bahang’
Indonesia—sebagai negara dengan laju urbanisasi tercepat—dihadapkan pada tantangan yang tidak main-main: Pulau Bahang Perkotaan (Urban Heat Island/UHI). Fenomena ini membuat kota-kota besar terasa jauh lebih panas daripada wilayah pedesaan di sekitarnya, sebuah efek samping dari beton, aspal, dan minimnya ruang hijau. UHI bukan hanya soal ketidaknyamanan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan publik dan kebutuhan energi.
Melihat krisis termal yang terus memburuk ini, tim peneliti dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University—dipimpin oleh Dr. Siti Badriyah Rushayati—mengangkat sebuah solusi yang bersahaja namun terbukti ampuh: Hutan Kota.
Penelitian mereka yang bertajuk Climate Change Mitigation Towards the Lens of Urban Heat Island under Urban Forest Development telah dipublikasikan di Jurnal Sylva Lestari, memberikan bukti berbasis ilmiah tentang bagaimana strategi pengembangan hutan kota dapat menjadi senjata utama dalam mitigasi perubahan iklim.
Pendekatan: Efektivitas hutan kota sebagai ‘pendingin alami’

Dalam studi ini, para peneliti berupaya membuktikan secara kuantitatif: seberapa efektif hutan kota benar-benar berfungsi sebagai ‘pendingin alami’ perkotaan.
Studi ini menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) yang efisien untuk memantau wilayah yang sangat luas. Data yang diandalkan berasal dari citra satelit Landsat-8, yang memungkinkan pengukuran parameter kunci, yaitu:
- Suhu Permukaan Tanah (Land Surface Temperature/LST): Parameter ini dihitung untuk mengukur suhu aktual di berbagai jenis penutupan lahan, dari area beton padat hingga kawasan hutan kota.
- Peran Vegetasi: Mengidentifikasi hubungan antara kerapatan dan jenis vegetasi (hutan kota) dengan penurunan suhu lokal (mikroklimat).
Pendekatan ini mengonfirmasi bahwa teknologi satelit adalah alat yang tak ternilai untuk merencanakan dan mengevaluasi efektivitas infrastruktur hijau di tengah laju pembangunan yang cepat.
Hutan Kota: Mesin Pendingin Peredam Panas
Hasil penelitian ini memberikan penegasan yang kuat: Hutan kota terbukti ampuh meredam intensitas Pulau Bahang Perkotaan (UHI).
Studi ini secara jelas menunjukkan adanya perbedaan suhu yang signifikan antara kawasan yang dipenuhi vegetasi lebat (hutan kota) dan kawasan perkotaan yang didominasi oleh material non-permeabel (beton, aspal).
Kawasan hutan kota bekerja sebagai penyerap panas alami melalui proses evapotranspirasi (pelepasan uap air dari daun dan tanah), yang secara aktif mendinginkan udara sekitarnya. Dengan kata lain, hutan kota adalah ‘penyangga termal’ yang vital bagi kehidupan kota, menciptakan zona nyaman yang dingin dan mengurangi stres termal pada populasi.
Mengapa Ini Penting bagi Perencanaan Kota?
Temuan ini sangat relevan bagi para pengambil kebijakan di kota-kota besar Indonesia, terutama bagi kota-kota yang sedang atau akan menjalani proyek urbanisasi besar.
- Prioritas Infrastruktur Hijau: Data ini mendorong pemerintah kota untuk tidak lagi menempatkan hutan kota sebagai sekadar pelengkap estetika, melainkan sebagai infrastruktur kritis dalam mitigasi perubahan iklim dan perencanaan kota yang tangguh.
- Desain Adaptif: Desain kawasan perkotaan harus memastikan konektivitas dan luasan optimal dari ruang terbuka hijau untuk memaksimalkan efek pendinginan, sehingga manfaat ekologisnya dapat dinikmati oleh seluruh warga kota.

Penelitian ini memperkuat argumen bahwa investasi pada hutan kota adalah investasi pada masa depan yang lebih sejuk, sehat, dan berkelanjutan bagi Indonesia. Hutan kota bukanlah sekadar pohon, melainkan solusi iklim yang paling dekat dan paling bisa kita tanam sendiri.
Referensi:
Rushayati, Siti Badriyah, Namira Nur Annisa, Yudi Setiawan, and Aryo Adhi Condro. 2025. “Climate Change Mitigation Towards the Lens of Urban Heat Island under Urban Forest Development”. Jurnal Sylva Lestari 13 (2):406-21. https://doi.org/10.23960/jsl.v13i2.1090.