Mengungkap Rahasia Komodo dengan UAV Multisensor: Teknologi Baru dalam Konservasi Satwa Liar

Mengungkap Rahasia Komodo dengan UAV Multisensor: Teknologi Baru dalam Konservasi Satwa Liar

Komodo, reptil raksasa yang hanya ditemukan di Indonesia, khususnya di Taman Nasional Komodo, kini mendapatkan perhatian lebih dalam upaya konservasi. Dengan luas wilayah yang sulit dijangkau dan tantangan dalam melakukan survei satwa liar, teknologi menjadi solusi utama dalam pemantauan ekosistem yang kompleks ini.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Ecological Engineering & Environmental Technology menunjukkan bagaimana Unmanned Aerial Vehicles (UAV) atau drone, yang dilengkapi dengan sensor termal dan multispektral, dapat menjadi alat revolusioner dalam memantau Komodo dan satwa liar lainnya.

UAV dan Sensor Multispektral untuk Pemantauan Satwa Liar

Lokasi studi di Loh Buaya, Pulau Rinca

Penelitian ini dilakukan di Loh Buaya, Pulau Rinca, dengan UAV jenis Trinity F90+ yang dilengkapi dengan kamera MicaSense Altum PT. Teknologi ini memungkinkan pengambilan gambar termal dan multispektral untuk mendeteksi keberadaan Komodo berdasarkan perbedaan suhu tubuh mereka dengan lingkungan sekitar.

UAV Trinity F90+

Sensor termal sangat efektif dalam mendeteksi satwa liar di sore hari karena perbedaan suhu yang lebih jelas antara tubuh hewan dan lingkungan sekitar. Di pagi hari, deteksi lebih sulit karena suhu tubuh hewan lebih mendekati suhu lingkungan.

Peta orthophoto hasil akuisisi pada pagi hari: (a) citra RGB, dan (b) citra thermal

Hasil dan Tantangan dalam Penggunaan UAV

Dari penelitian ini, beberapa fakta menarik ditemukan:

  1. Komodo lebih mudah terdeteksi di sore hari, dengan suhu tubuh sekitar 33-34°C, lebih tinggi dibanding lingkungan sekitar yang berkisar 30-32°C.
  2. Deteksi satwa liar dengan sensor termal di pagi hari lebih sulit, karena suhu tubuh hewan lebih mirip dengan lingkungan.
  3. Kombinasi sensor multispektral dan termal lebih efektif dibanding hanya menggunakan satu jenis sensor.
  4. Hambatan lingkungan seperti kabut, kelembaban, dan pergerakan satwa dapat mempengaruhi akurasi deteksi.
  5. Dari total 47.945 foto yang diambil, analisis menggunakan perangkat lunak Agisoft Metashape menunjukkan keakuratan yang lebih tinggi dalam mendeteksi satwa liar ketika data multispektral dan termal digabungkan.
  6. Penggunaan UAV dengan sensor canggih dapat mengurangi biaya dan waktu survei dibandingkan metode tradisional berbasis darat.
  7. Waktu optimal untuk pemantauan Komodo dengan UAV adalah sore hari, saat suhu tubuhnya lebih tinggi dibanding lingkungan.

Meski UAV menawarkan banyak keunggulan, beberapa tantangan tetap ada, seperti keterbatasan resolusi sensor termal, faktor cuaca, dan kebutuhan energi yang besar untuk penerbangan jangka panjang.

Implikasi bagi Konservasi Komodo dan Satwa Liar Lainnya

Teknologi UAV yang digunakan dalam penelitian ini membuka peluang besar untuk konservasi satwa liar. Dengan kemampuan mendeteksi satwa secara akurat dan non-invasif, UAV dapat menjadi alat utama dalam memantau populasi satwa di habitat aslinya tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain itu, pendekatan ini dapat diterapkan untuk pemantauan satwa lain di Indonesia yang memiliki habitat luas dan sulit dijangkau, seperti badak Sumatra atau orangutan di Kalimantan. Dengan UAV, survei populasi dapat dilakukan lebih sering dan dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan metode tradisional yang memerlukan sumberdaya dan waktu yang lebih besar.

Penggunaan teknologi UAV dalam konservasi juga dapat meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat lokal. Data yang dikumpulkan melalui UAV dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan satwa liar dan ekosistemnya. Dengan cara ini, masyarakat sekitar dapat lebih terlibat dalam upaya konservasi, baik melalui edukasi maupun partisipasi langsung dalam pemantauan satwa.

Pada akhirnya, penggunaan UAV dalam pemantauan Komodo dan satwa liar lainnya memberikan solusi inovatif yang dapat meningkatkan efektivitas konservasi. Dengan semakin berkembangnya teknologi ini, harapannya adalah dapat lebih banyak spesies yang terlindungi dan ekosistem yang tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa UAV dengan sensor multispektral dan termal memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas pemantauan satwa liar, khususnya Komodo. Dengan semakin berkembangnya teknologi ini, kita dapat berharap pada metode konservasi yang lebih canggih dan efisien di masa depan.

Bagi para peneliti dan konservasionis, mengadopsi UAV dalam pemantauan satwa bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya.

Referensi:
Hendriatna, A., Prasetyo, L. B., Kusrini, M., Setiawan, Y. (2025). Multi-sensor data utilization of unmanned aerial vehicle for wildlife monitoring in Komodo National Park. Ecological Engineering & Environmental Technology26(3), 315-329. https://doi.org/10.12912/27197050/200185

Arif is lecturer and researcher based in Faculty of Forestry, IPB University. He is interested in research related to geoinformatics, WebGIS, and UAV/drone