
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Koridor Tol Jagorawi (2005–2020)
Pendahuluan
Pembangunan infrastruktur, terutama jalan tol, memiliki dampak signifikan terhadap perubahan penggunaan lahan di sekitarnya. Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) sebagai tol pertama di Indonesia telah menjadi katalis bagi perkembangan wilayah Jabodetabek. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Natural Resources and Environmental Management menganalisis perubahan penggunaan lahan (Land Use/Land Cover – LULC) di sekitar koridor Tol Jagorawi dari tahun 2005 hingga 2020 menggunakan citra Landsat.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data satelit Landsat 5 TM (2005 & 2010) dan Landsat 8 OLI/TIRS (2020) untuk menganalisis perubahan LULC di sepanjang 59 km jalur Tol Jagorawi dengan zona buffer 5 km. Klasifikasi visual dilakukan untuk mengidentifikasi delapan kategori penggunaan lahan, seperti kawasan terbangun, vegetasi tinggi, pertanian lahan kering, pertanian lahan basah, area terbuka, semak, rumput, dan badan air. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lahan, seperti jarak dari tol, jalan arteri, gerbang tol, pusat pemerintahan, dan kepadatan penduduk, juga dianalisis dengan metode overlay spasial.
Hasil dan Temuan

- Peningkatan Kawasan Terbangun
- Tahun 2005: 29,72% (16.215,93 ha)
- Tahun 2010: 32,03% (17.477,19 ha)
- Tahun 2020: 35,82% (19.542,78 ha)
- Faktor Pendorong Perubahan Lahan
- Jarak dari Tol dan Gerbang Tol: Kawasan dalam radius 4 km dari jalan tol dan gerbang tol mengalami konversi lahan yang signifikan.
- Jarak dari Jalan Arteri dan Kolektor: Wilayah dalam radius 1 km dari jalan utama memiliki tingkat konversi lahan tertinggi.
- Jarak dari Pusat Pemerintahan: Wilayah dalam radius 7,5 km dari pusat pemerintahan mengalami ekspansi kawasan terbangun yang lebih besar.
- Kepadatan Penduduk: Wilayah dengan kepadatan 5.000–10.000 jiwa/km² mengalami konversi lahan paling signifikan.
- Suburbanisasi dan Tanah Terlantar
- Sejumlah besar lahan terbuka dan semak diubah menjadi kawasan terbangun, menunjukkan adanya fenomena suburbanisasi.
- Adanya tanah terlantar yang belum dimanfaatkan dengan optimal berpotensi menghambat program pembangunan berkelanjutan.
Implikasi dan Rekomendasi
- Perencanaan Tata Ruang yang Lebih Adaptif Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan dampak infrastruktur dalam kebijakan tata ruang, terutama dalam mengelola lahan terlantar.
- Pengendalian Urban Sprawl Perlu kebijakan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan di sekitar tol dan mengurangi ekspansi kota yang tidak terkendali.
- Monitoring Berkelanjutan Penggunaan teknologi penginderaan jauh dan SIG harus diintegrasikan dalam pemantauan perubahan lahan untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tol mendorong urbanisasi dan suburbanisasi di sekitar Tol Jagorawi. Dengan peningkatan kawasan terbangun yang signifikan, diperlukan strategi pengelolaan lahan yang berkelanjutan agar keseimbangan antara pembangunan dan konservasi lingkungan tetap terjaga.
Peningkatan pemanfaatan data spasial dalam perencanaan wilayah dapat membantu memastikan bahwa pertumbuhan perkotaan tetap terkendali dan berkelanjutan.
Referensi:
Wardani T. P. K., Prasetyo L. B. and Setiawan Y. (2025) “Analysis of Land Use/Land Cover Changes 2005–2020 Jagorawi Highway Corridor”, Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management). Bogor, ID, 15(1), p. 134. doi: 10.29244/jpsl.15.1.134