
Menelusuri Dampak Rekreasi di Ruang Terbuka Hijau dengan Pendekatan Life Cycle Assessment
Pendahuluan
Rekreasi di ruang terbuka hijau (RTH) semakin populer sebagai sarana untuk melepaskan penat dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, aktivitas rekreasi juga dapat memberikan dampak lingkungan yang signifikan, terutama dari segi emisi gas rumah kaca, limbah, dan konsumsi sumber daya. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Media Konservasi menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menelusuri dampak rekreasi di dua taman kota di Tangerang Selatan, yaitu City Park 1 BSD dan City Park 2 BSD.
Metode Penelitian
Penelitian ini menginventarisasi input dan output dari setiap tahap aktivitas rekreasi, mulai dari perjalanan menuju taman, kegiatan di dalam taman, hingga perjalanan kembali ke tempat asal. Data diperoleh melalui survei pengunjung, pengamatan langsung, dan analisis data sekunder.
LCA digunakan untuk mengukur emisi gas rumah kaca (CO₂, N₂O, CH₄), pencemaran udara (SO₂, NO₂), dan eutrofikasi (PO₄³⁻). Sumber emisi utama meliputi:
- Transportasi pengunjung (bensin, solar)
- Penggunaan listrik di taman
- Limbah organik dan anorganik dari konsumsi makanan dan minuman
- Penggunaan toilet dan sabun
Hasil dan Temuan
- Kontribusi Emisi Terbesar Berasal dari Transportasi
- City Park 1 BSD: 49,99 kg CO₂ dari transportasi pengunjung.
- City Park 2 BSD: 43,89 kg CO₂ dari transportasi pengunjung.
- Motor dan mobil berbahan bakar bensin adalah kontributor utama emisi.
- Perbedaan Pola Konsumsi dan Limbah
- City Park 1 BSD menghasilkan lebih banyak limbah anorganik (0,96 kg per kunjungan) dibandingkan City Park 2 BSD (0,91 kg per kunjungan).
- Limbah organik di City Park 2 BSD lebih tinggi dibandingkan City Park 1 BSD, menunjukkan perbedaan pola konsumsi pengunjung.
- Dampak Lingkungan Berdasarkan Kategori
- Potensi Pemanasan Global (GWP): City Park 1 BSD berkontribusi 64,05 kg CO₂eq, lebih tinggi dibanding City Park 2 BSD (58,57 kg CO₂eq).
- Asidifikasi (SO₂eq): City Park 1 BSD memiliki dampak lebih tinggi (5,69 x 10⁻² kg SO₂eq) dibanding City Park 2 BSD (4,27 x 10⁻² kg SO₂eq).
- Eutrofikasi (PO₄³⁻eq): City Park 1 BSD menyumbang 4,45 x 10⁻⁴ kg PO₄³⁻eq, lebih tinggi dibanding City Park 2 BSD (1,66 x 10⁻⁴ kg PO₄³⁻eq).
Rekomendasi Mitigasi Dampak
Berdasarkan temuan penelitian, dua skenario utama diusulkan untuk mengurangi dampak lingkungan dari rekreasi:
- Pembatasan Penggunaan Kendaraan Bermotor
- Mendorong pengunjung yang tinggal dalam radius ≤ 5 km untuk menggunakan sepeda atau berjalan kaki.
- Dapat mengurangi emisi CO₂ hingga 3,71% di City Park 1 BSD dan 3,19% di City Park 2 BSD.
- Pengurangan Limbah Plastik
- Mendorong penggunaan botol minum dan wadah makanan yang dapat digunakan kembali.
- Mengurangi emisi CO₂ hingga 94,78% di City Park 1 BSD dan 9,71% di City Park 2 BSD.
Kesimpulan
Studi ini menegaskan bahwa aktivitas rekreasi di RTH memiliki dampak lingkungan yang signifikan, terutama dari segi emisi transportasi dan limbah plastik. Dengan menerapkan strategi mitigasi seperti pembatasan kendaraan bermotor dan pengurangan limbah plastik, dampak negatif dapat dikurangi secara signifikan. Oleh karena itu, pengelola taman dan pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kebijakan berbasis lingkungan guna memastikan keberlanjutan ruang hijau perkotaan.
Referensi:
Luthfia Ainur Rahma, Hermawan R., & Eva Rachmawati. (2025). Life Cycle Assessment Approach for Tracing the Impact of Recreational Activities in Green Open Spaces, South Tangerang – Indonesia. Media Konservasi, 30(1), 23. https://doi.org/10.29244/medkon.30.1.23